Jember, Pesantren API. Suatu ketika, Kiai Syamsul Arifin, ayahanda Kiai Asad Syamsul Arifin, pendiri Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo merenovasi masjid dengan melibatkan sejumlah santri dan warga sekitar. Ketika itu, sebagian mereka sedang berada di atap masjid untuk memasang genting. Tiba-tiba seorang warga yang sudah sepuh melintas di depan masjid dan memberi tahu kepada Kiai Syamsul Arifin yang tengah mengomando pembagunan kembali bahwa hari tersebut adalah hari nahas, sehingga disarankan untuk tidak merenovasi masjid ataumelakukan kegiatan apapun.
"Ayo turun, turun semua (yang di atap masjid). Sekarang hari nahas," seru Kiai Syamsul Arifin merespon saran si sepuh tersebut.
| Kisah Kiai Syamsul Arifin Situbondo dan Kepercayaan Hari Nahas (Sumber Gambar : Nu Online) |
Kisah Kiai Syamsul Arifin Situbondo dan Kepercayaan Hari Nahas
Merekapun turun, dan orang tua itupun berlalu pergi. Setelah ia menjauh, Kiai Syamsul memerintahkan kepada mereka agar naik lagi ke atas masjid guna melanjutkan memasang genting."Ayo naik lagi. Sekarang hari nahasnya sudah pergi," tukasnya.
Pesantren API
Cerita tersebut diungkapkan Rais Syuriyah PCNU Jember, KH. Muhyiddin Abdusshomad saat mengisi pengajian Aswaja di halaman kantor NU Cabang Jember, Senin (22/8). Menurutnya, respon yang demikian itu mencerminkan kearifan seorang Kiai Syamsul Arifin dalam menyikapi tradisi atau budaya yang berkembang di masyarakat.Pesantren API
"Jadi, menolak sesuatu, harus dengan cara yang baik. Dan menyampaikan sesuatu yang baik, apalagi, harus dengan cara yang baik pula. Tidak perlu dengan kekerasan atau kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain. Itulah dakwah," jelasnya.Penulis beberapa buku Aswaja itu juga menyinggung pola dakwah yang dilakukan Walisongo. Dikatakannya, bahwa Walisongo dalam menyampaikan dakwahnya sangat sejuk dan selalu bisa beradaptasi dengan tradisi lokal. Tradisi apapun, selama bisa dicari benang merahnya dengan ajaran Islam, maka Walisongo tetap mempertahankannya. Sedangkan bagi tradisi yang bertentangan dengan Islam, Walisongo perlahan-lahan menghapusnya dengan cara yang santun, tanpa perlu melukai perasaan masyarakat.
"Dakwah tidak perlu dengan kekerasan, kecuali sangat dan sangat terpaksa. Jangan sampai, karena ingin menyampakian kebenaran, semua dihancurkan. Bisa jadi, orang mungkin takut dan ikut, tapi belum tentu patuh. Dakwah yang menggunakan kekerasan akan menuai kekerasan yang lain," tuturnya.(Aryudi A Razaq/Zunus)
Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70650/kisah-kiai-syamsul-arifin-situbondo-dan-kepercayaan-hari-nahas
Pesantren API

EmoticonEmoticon